goklas tambunan

February 23, 2006

Burung India

Filed under: forward — goklas @ 7:55 am

Seorang saudagar memelihara burung dalam sangkar. Ia akan berangkat ke India, tanah asal burung itu, dan menanyakan barangkali binatang itu meminta oleh-oleh dari sana. Burung itu meminta kebebasannya, tetapi ditolak. Karena itu ia minta saudagar itu pergi ke hutan di India, lalu mengabarkan tentang keadaannya yang dalam kurungan kepada burung-burung lain yang masih bebas.

Saudagar itu pun melaksanakan pesan tersebut, dan begitu ia mengucapkan kata-katanya, seekor burung serupa dengan burung piaraannya jatuh dari sebuah pohon, tak sadarkan diri di tanah. Si Saudagar berpendapat bahwa itu tentulah saudara burung piaraannya, dan iapun merasa sedih telah menyebabkan kematiannya.

Ketika ia pulang, burungnya bertanya apakah tuannya membawa kabar gembira dari India. “Tidak,” jawab saudagar itu, “kabar buruklah yang aku bawa. Salah seekor saudaramu tak sadar diri dan jatuh dekat kakiku ketika kusiarkan kabar tentang keadaanmu.” Segera setelah kata-kata itu diucapkan, burung yang dalam sangkar itu pun tak sadarkan diri dan jatuh ke dasar sangkar.

“Kabar kematian saudaranya menyebabkannya mati juga,” pikir saudagar itu. Dengan sedih diambilnya burung itu dari sangkarnya, lalu diletakkannya di ambang jendela. Segera saja burung itu hidup kembali, terbang ke pohon terdekat.

“Kini kau tahu,” kata Si Burung, “bahwa yang kau kira kabar buruk itu, ternyata merupakan kabar baik bagiku. Dan pesan, yakni cara untuk membebaskan diriku, ternyata telah disampaikan kepadaku lewat kamu, yang dulu menangkapku.” Dan burung itupun terbang, bebas merdeka akhirnya.

Dalam keadaan apapun, ketika kita berpikir “pasti ada jalan keluar” maka jalan keluar itu pasti ada. Karena kita adalah apa yang kita pikirkan.

Good morning all, have a great day!

Sayangilah Ibumu

Filed under: burung berkicau — goklas @ 2:57 am

Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya. Kini giliran diciptakan para ibu. Seorang malaikat menghampiri Tuhan dan berkata lembut : “Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan untuk menciptakan ibu ini ?”. Dan Tuhan menjawab pelan: “Tidakkah kau lihat perincian yang harus dikerjakan ?

  1. Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik.
  2. Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capek
  3. Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya
  4. Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.
  5. Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anak-anaknya.
  6. Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
  7. Enam pasang tangan!! — Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya “Enam pasang tangan….? tsk tsk tsk” “Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik….”
  8. Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu. “Bagaimana modelnya ?” Malaikat semakin heran.Tuhan mengangguk-angguk.
  9. “Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat, dan bertanya: “Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?”, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya. “Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: “Saya mengerti dan saya sayang padamu”. Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun. “Tuhan”, kata malaikat itu lagi, “Istirahatlah” “Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai” Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
  10. Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
  11. Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi….Akhirnya Malaikat membalik-balikkan contoh Ibu dengan perlahan.

“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.
“Tapi kuat”, kata Tuhan bersemangat.
“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul, dan derita.
“Apakah ia dapat berpikir ?” Tanya malaikat lagi.
“Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide, dan berkompromi”, kata Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. “Eh, ada kebocoran disini”
“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan. “Itu adalah air mata…. air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata…., airmata….”
Akhirnya Malaikat berkata pelan pada pembaca………:

“JIKA KAMU MENCINTAI IBUMU KIRIMLAH CERITA INI KEPADA ORANG LAIN, AGAR SELURUH ORANG DI DUNIA INI DAPAT MENGHORMATI, MENCINTAI DAN MENYAYANGI IBUNYA”

Blog at WordPress.com.