goklas tambunan

February 20, 2008

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Filed under: Uncategorized — goklas @ 3:59 am

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal itu menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos. Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.
Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”

Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”

Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

February 8, 2008

JESUS MENONTON SEPAK BOLA

Filed under: Uncategorized — goklas @ 4:18 am

Jesus Kristus berkata bahwa IA belum pernah menyaksikan pertandingan sepak bola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajaknya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik. Kesebelasan Katolik memasukan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggilagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya, “Saudara berteriak untuk pihak yang mana ?” “Saya ?” jawab Jesus yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. “Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.” Penanya itu berpaling pada temannya dan mencemooh Jesus :” Ateis !”

Sewaktu pulang, Jesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. “Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan,” kata kami. “Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada dipihak mereka dan melawan orang-orang yang ada dipihak lain” Jesus mengangguk setuju. “Itulah sebabnya AKU tidak mendukung Agama; Aku mendukung orang-orangnya.” katanya. “Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting dari pada hari Sabat.”

“Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kata MU,” kata seorang di antara kami dengan was-was. “Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu”.
“Ya – dan justru hal itu dilakukan oleh
orang-orang beragama.” kata JESUS sambil tersenyum kecewa.

Diambil dari : BURUNG BERKICAU karya A. de Mello SJ.

Janji a touching story from India

Filed under: Uncategorized — goklas @ 4:11 am

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan”. Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan dan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yoghurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun, dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu & istriku masih kuno. Mereka percaya sekali kalau makan curd rice, ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok & berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah” Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda & ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “Boleh ayah, aku akan makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…” Agak ragu2 sejenak … “… akan minta sesuatu sama ayah bila aku menghabiskan semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan ku?”

Aku menjawab, “Oh pasti sayang”. Sindu tanya sekali lagi, “Betul ayah?”. “Yah pasti..”, sambil menggenggam tangan anakku yang kemerahmudaan dan lembut sebagai tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama. Istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “Janji”, kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata, “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang”. Sindu menjawab, “Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku, aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku & juga ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata, “Permintaan gila, anak perempuan kok dibotakin, tidak mungkin!”. Juga ibuku menggerutu, ”Jangan terjadi dalam keluarga kita. Dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita”. Aku coba membujuk, “Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain? Kami semua akan sedih melihatmu botak”. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya. “Tidak ada ayah, tak ada keinginan lain,” kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami?”. Sindu dengan menangis berkata, “Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku. Kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri?”.

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “Janji kita harus ditepati!”. Secara serentak istri dan ibuku berkata, “Apakah kamu sudah gila?”. “Tidak!” jawabku, “Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri”. “Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar. Matanya besar dan bagus. Hari Senin aku mengantarkannya ke sekolah. Sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangannya kepadaku sambil tersenyum, aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, “Sindu, tunggu saya donk..”. Yang mengejutkanku, ternyata kepala anak laki2 itu botak. Aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, “Anak Anda, Sindu benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya. Dia menderita kanker leukemia”. Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya. “Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah. Karena chemo therapy, kepalanya menjadi botak. Jadi dia tidak mau pergi ke sekolah karena takut diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi”

Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan Istri Tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia” Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Blog at WordPress.com.